Saat Hak Nutrisi Anak-Anak Tergerus Demi Pundi-Pundi Yayasan
By Admin

Ilustrasi MBG
nusakini.com, Niat baik menghadirkan nutrisi layak bagi generasi bangsa melalui Program Makan Bergizi Gratis belakangan ini diwarnai kabar kurang sedap. Sejumlah oknum diduga mencari celah keuntungan finansial di tengah ikhtiar para relawan membangun dapur pemenuhan gizi masyarakat.
Para mitra yang sedari awal berkorban menggelontorkan modal pribadi kini harus menghadapi tekanan moral dari sejumlah yayasan pendamping. Lembaga yang seharusnya menjadi jembatan kebaikan tersebut justru dituding sekadar menuntut jatah setoran rutin tanpa ada kerja nyata.
Potongan yang diminta memang sekilas terlihat sepele karena hanya berkisar seribu lima ratus hingga dua ribu rupiah per porsi. Namun, nominal kecil ini berubah menjadi beban ekonomi yang sangat besar saat dikalikan dengan ribuan porsi harian.
Ujung dari beban tambahan tak kasat mata ini terpaksa mengorbankan kualitas sayur dan lauk pauk masyarakat. “Yang terjadi adalah karena dipotong, dia makan menunya itu dikurangi kualitasnya, ini tidak boleh lagi terjadi,” keluh Kepala BGN Sudaryono memprihatinkan situasi tersebut.
Rasa keadilan bagi para pemilik modal pun terkoyak ketika pihak yang absen mengatur operasional justru menikmati pundi-pundi rupiah. Keringat pekerja dapur yang berjuang meracik makanan sejak waktu subuh seolah sama sekali tidak dihargai oleh para pengejar setoran.
Menyikapi fenomena ini, pemerintah melalui BGN berjanji akan menyaring ulang ketat daftar yayasan pendamping demi menjaga muruah program kemanusiaan. "Pokoknya orang-orang yang tidak ada andil, tidak membina, tidak ikut repot, tidak modal... itu semua akan kita cut off," tegas Sudaryono mewakili keresahan mitra.
Perbaikan skema insentif perlahan disusun secara matang agar tidak ada lagi oknum yang leluasa memancing di air keruh. Harapannya, hak nutrisi anak-anak tidak lagi tersita oleh keserakahan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. (*)